

Oya, beritanya muncul di website portal Divisi Regional IV Jateng & DIY hihihihi... Kayak SPG Flexi deh jadinya.
... canda ceria suka duka tetesan air mata tangis bahagia, semuanya ada di sini ...
Sejak saat itu
hatiku tak mampu
membayangkan rasa diantara kita
di pasir putih
kau genggam erat tanganku
menatap mentari yang tenggelam
Semua berlalu dibalik khayalku
Kenangan yang indah berdua denganmu
di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku
di Kuta Bali cinta kita ...
Reff#Bersemi dan tetap akan bersemiMewangi dan tetap akan mewangi
Bersama dirimu, walau kini tlah jauh
Kasih..suatu saat di Kuta Bali
About Tanah Lot (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Lot)
Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.
Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Beliau adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Beliau menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Beliau juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha.Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.
"asal usul nama Dreamland dikarenakan dulu di area ini sempat terdapat sebuah proyek perumahan dan objek wisata (proyeknya mas Tommy Suharto). Namun proyek tersebut terhambat dan terbengkalai sedangkan para penduduk desa Pecatu yang dulunya hidup sebagai petani sangat berharap proyek selesai dan mereka bisa menekuni bisnis lain di bidang pariwisata. Karena itulah lahan disekitar pantai disebut dengan Dreamland (tanah impian)."Berbicara soal pantainya... wuiiiihhh cantik sekali. Pasirnya pasir putih (Kuta saja kalah...). Airnya bening... beneran lho kagak ada butheknya sama sekali. Cuma satu, ombaknya agak gedhe jadi hati2 saja kalau berenang di sini. Yang pasti tidak terlalu ramai seperti pantai Kuta.
Hebat juga, Ruth baru pertama kali ke tanah Lot tapi tidak nyasar. Gampang kok jalannya cuma lurus aja naik turun bukit hehehehe... Sempat sekali tanya ke penduduk karena curiga ini kok tidak sampai2 apalagi minim sekali petunjuk jalannya. Ternyata maju sedikit sudah sampai ke gerbang pembelian tiket parkir di areal parkir Uluwatu.
Tentang Uluwatu
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Luhur_Uluwatu)
Pura Luhur Uluwatu atau Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung.
Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari Abad 11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah/Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.[1]
Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.
Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.[2]
Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga surfing, bahkan event internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat surfing selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.
Tiket masuk ke pura murah kalau tidak salah seorang hanya membayar 2500 rupiah saja. Kami juga harus memakai kain warna ungu dan kain ikatnya yang berwarna warni. Di depan pintu masuk ada tulisan intinya karena ini adalah pura suci, jika punya niat atau pikiran tidak baik, sebaiknya tanggalkan atau akan kena celaka. Dan satu lagi, bagi wanita yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan masuk ke dalam pura, hanya boleh sampai tangga masuk pura saja. Yaaaah... saya nya mah waktu itu lagi haid.
Yang pasti di sini buanyak sekali monyet. Mana monyetnya guedhe guedhe... mungkin umurnya sudah puluhan tahun kali yaaa... malah ada monyet yang genduuuut sekali sampai kulitnya lecet2 saking gedhenya dan dia kerjaannya cuma tiduran ajah. Nih monyet2 hobi sekali makan timun, makanya banyak tourguide yang menawarkan timun utk umpan ke monyet2 itu agar mau mendekat. Tapi hati2, jangan pakai perhiasan, kaca mata, karet rambut, HP dan dompet serta tas tangan harus dijaga kalau tidak akan dirampas monyet2 yang agresif... hiiiy. Eh ini ada yang nangkring di atas pohon juga... tapi bukan monyet... wah ini Devanand... hahahaah dapat tempat berte
ngger rupanya dia...
Hmmm matahari sangat terik. Sehingga kami pun akhirnya malas naik ke atas pura. Jadi hanya foto2 saja dan siap-siap melanjutkan perjalanan selanjutnya. Waktu kami foto2 sepintas melintas sepasang pengantin yang mau foto pre-wedding... wah niat banget ya... nda takut diserbu monyet2 tuh soalnya perhiasannya berkilauan... Eh... Devand dan nenek juga hampir diserang sama monyet. Gara-gara mau beraksi pakai kaca mata hitam, malah mengundang perhatian si monyet... Tapi tetap nekad di posisinya semula buat foto... hihihihihi...