04 September 2008

Ke Bali : Uluwatu

Perjalanan ke Uluwatu lancar. Kami melewati kampus Univ. Udayana. Jadi inget Putu Manik deh, temenku. Aduh padahal aku janjian ketemu ama dia lho tapi maaf beribu maaf waktunya tidak cukup. Kami juga melewati jalan menuju ke Garuda Wisnu Kencana, tapi kabarnya patung itu belum selesai jadinya yah... lain kali saja deh.

Hebat juga, Ruth baru pertama kali ke tanah Lot tapi tidak nyasar. Gampang kok jalannya cuma lurus aja naik turun bukit hehehehe... Sempat sekali tanya ke penduduk karena curiga ini kok tidak sampai2 apalagi minim sekali petunjuk jalannya. Ternyata maju sedikit sudah sampai ke gerbang pembelian tiket parkir di areal parkir Uluwatu.

Tentang Uluwatu

(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Luhur_Uluwatu)

Pura Luhur Uluwatu atau Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung.
Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karan
g yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari Abad 11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah/Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.[1]
Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdap
at hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.
Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pu
ra yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.[2]
Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga surfing, bahkan event internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat surfing selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.

Tiket masuk ke pura murah kalau tidak salah seorang hanya membayar 2500 rupiah saja. Kami juga harus memakai kain warna ungu dan kain ikatnya yang berwarna warni. Di depan pintu masuk ada tulisan intinya karena ini adalah pura suci, jika punya niat atau pikiran tidak baik, sebaiknya tanggalkan atau akan kena celaka. Dan satu lagi, bagi wanita yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan masuk ke dalam pura, hanya boleh sampai tangga masuk pura saja. Yaaaah... saya nya mah waktu itu lagi haid.

Yang pasti di sini buanyak sekali monyet. Mana monyetnya guedhe guedhe... mungkin umurnya sudah puluhan tahun kali yaaa... malah ada monyet yang genduuuut sekali sampai kulitnya lecet2 saking gedhenya dan dia kerjaannya cuma tiduran ajah. Nih monyet2 hobi sekali makan timun, makanya banyak tourguide yang menawarkan timun utk umpan ke monyet2 itu agar mau mendekat. Tapi hati2, jangan pakai perhiasan, kaca mata, karet rambut, HP dan dompet serta tas tangan harus dijaga kalau tidak akan dirampas monyet2 yang agresif... hiiiy. Eh ini ada yang nangkring di atas pohon juga... tapi bukan monyet... wah ini Devanand... hahahaah dapat tempat bertengger rupanya dia...

Hmmm matahari sangat terik. Sehingga kami pun akhirnya malas naik ke atas pura. Jadi hanya foto2 saja dan siap-siap melanjutkan perjalanan selanjutnya. Waktu kami foto2 sepintas melintas sepasang pengantin yang mau foto pre-wedding... wah niat banget ya... nda takut diserbu monyet2 tuh soalnya perhiasannya berkilauan... Eh... Devand dan nenek juga hampir diserang sama monyet. Gara-gara mau beraksi pakai kaca mata hitam, malah mengundang perhatian si monyet... Tapi tetap nekad di posisinya semula buat foto... hihihihihi...


No comments: