26 March 2007

Makan apel

Devand : mama... mama... mama makan apa sih? Devand mau...
Mama : Mama lagi makan apel, Devand mau? Icip sedikit ya...
Devand + mama : nyam.. nyam... nyam.. crauzzz... crauzzzz...

23 March 2007

Bermain di lantai

Devand suka sekali bermain di lantai, sambil telungkup, trus ngguling-guling. tapi klo sudah bosan... oeeek... nangis lagi deh






Devand berambut panjang hahaha

om... tante... mbak... mas... kalo rambutku panjang gini cakep ga? hehehe.. apa medeni kayak gendruwo? hahaha...



21 March 2007

Main-main di rumah eyang

Hallo... minggu lalu Devand main ke Tegalamba seperti biasa kalau tidak Sabtu btu, ya Minggu. Di Tegalamba Devand main-main ama eyang. Ketawa-ketawa karena diangkat tinggi-tinggi pas mau ambil gantungan baju. wah... dia senang sekali. Kapan ya Devand bisa main sama mbak Ariel dan mas Andrew?







12 February 2007

Devanand sudah bisa apa saja?




Devand sekarang sudah 4 bulan lho... Devand udah bisa ngguling ke kiri dan ke kanan. Dari posisi terlentang ke telungkup dan sebaliknya. Trus udah bisa didudukin, apalagi kalau sambil nonton TV duh... suka sekali dan selalu serius nontonnya. Devand juga sudah bisa buka tutup pintu lemari. Semua benda mau dipegang dan dimasukkan ke mulutnya. Udah banyak ngoceh. Kalau ketemu orang baru suka nyapa "Hai..." atau "a...lo" hehehe...

12 January 2007

Ke rumah kakek

Devand sayang ama kakek. Setiap minggu, pulang dari gereja Devand pasti ke rumah kakek. Sama bapak, ibu, dan nenek Devand ke rumah kakek bawa bunga dan mawar buat ditabur. Kakek pasti senang cucunya sudah besar dan pintar. Kakek sedang apa ya di surga? Devand kangen sekali...

Jaga Devand ya kek...

Devand Baptis

Tanggal 17 Desember 2006 Devanand baptis di GKJ Salatiga. Pendeta yang membaptis Devand Pdt. Em. Meno. Wah, Devand anteng sekali soalnya tidur pules hahaha... Kebetulan ada bu Dethmers yang bisa hadir di acara baptis Devand. Bu Dethmers adalah teman papa. Beliau datang dari Belanda dan mampir ke Salatiga. Habis baptis, kita ngantar bu Dethmers ke museum kereta api Ambarawa karena beliau ada syuting film. Kalau ga salah filmnya tentang kisah orang Jawa pertama yang dibaptis di Indonesia. Bu Dethmers dan adiknya Liweh jadi keluarga pendeta Belanda. Setelah itu siangnya kita ngadain syukuran baptis Devand di pemancingan Mina Kencana. Wah... ikannya sisa banyaaaakk sekali.

11 January 2007

Foto bareng tante Ruth dan om Wawan


Foto bareng eyang Ito dan Yoyo


Gaya tidur Devand




Devand kalau tidur suka miring-miring.
Devand kalau tidur suka ngowoh.
Devand kalau tidur suka senyam senyum sendiri.












Pertama kali dijemur


Pertama kali dijemur di rumah. Devand waktu dijemur suka olahraga. Kaki dan tangannya digerak-gerakin melulu. Mungkin karena itu dia cepet panjang ya? Hihihi baru umur 3 hari popoknya kekecilan. Padahal ibu belinya 6 biji yang kayak gitu. Dari umur 1 bulan, popok-popoknya Devand udah dimuseumkan.

Pertama kali dimandiin


Pertama kali dimandiin ama nenek di rumah Devand nangis njerit-njerit. Ternyata selidik punya selidik airnya kurang panas. Devand suka mandi di air yang tidak hangat, yah satu level di atas hangat. Kalau cuma suam-suam kuku dia pasti menjerit-jerit.
Mungkin bawaan waktu hamil mamanya suka mandi shower air panas yaaa hehehe

Our First Son


Our first son ...
"Emmanuel Devanand Onduko"
called Devand.
Emmanuel means God with us.
Devanand means Joy of God.
Onduko is my father's name, we proud to give our son his name to memorize our lovely father who passed away on August 1st.

Devand was born on October 6th 2006 6 pm, at RS Bersalin Mutiara Bunda Salatiga, weight 4020 gram, height 51 cm.

14 August 2006

RIP


Telah berpulang ke rumah BAPA di sorga, papa kami terkasih, di usianya yang ke 63 tahun - 27 hari, pada hari Selasa 1 Agustus 2006, pukul 02.10 WIB di RSUD Salatiga. Papa menghembuskan nafas terakhir setelah perjuangannya selama 3 tahun melawan sakit stroke dan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Papa tersayang, kami yakin dan percaya papa sekarang tenang bersama Tuhan Yesus. Papa tidak akan merasa sakit dan menderita lagi. Papa sudah menang terhadap penderitaan di dunia, dan papa sudah memenangkan pertarungan, karena papa memegang teguh iman papa. Selamat jalan papa... doakan kami, mama, anak-anakmu yang masih harus berjuang di dunia ini, sampai nanti kita bertemu lagi...
Di pemakaman Sidomulyo, 2 Agustus 2006










Ziarah ke makam papa, pulang dari gereja

31 May 2006

Papa Jatuh!!!

Sore kemarin, papa Yani jatuh. Ceritanya, habis ngobrol-ngobrol di teras dengan mama dan adik, papa mau ke kamar kecil. Sebelumnya adik Yani sms, papa nda mau makan. Padahal khan lagi dalam proses penyembuhan, butuh banyak asupan energi. Nah, saat berjalan melintas di ruang tamu, kakinya lunglai dan mengakibatkan tubuhnya tidak seimbang sehingga jatuh ke lantai. Jatuhnya bukan tengkurap, tapi terpelanting ke belakang. Aduh Gusti... padahal kalau ingat riwayat papa yang kena stroke 3 tahun yang lalu, kami sangat kuatir akibat jatuhnya itu akan mengakibatkan serangan stroke yang kedua. Puji Tuhan, sewaktu jatuh, papa masih sadar dan tidak pingsan. 2 jam mama biarkan papa tidur di lantai karena takut perubahan posisi akan memperburuk keadaan. Sementara itu kepala papa yang terbentur dikompres dengan air es supaya tidak benjol (sempat benjol sih). Adik juga langsung mengambil tensimeter untuk mengukur tekanan darah papa. Ya ampunnn... 180/110. Kemungkinan karena masih shock karena jatuh. Mama juga langsung sigap menelpon dr Anthon yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Semarang. Tindakan kami sudah tepat menurut dokter. Saat jatuh itu, dan tahu papa tidak kehilangan kesadaran, mama dan adik langsung duduk berdoa bersama papa memanjatkan syukur tidak terjadi apa-apa. Yani yang di Bandung, saat itu sedang ada rapat di lantai 7, hanya bisa berharap semoga tidak terjadi hal yang dikuatirkan. Untunglah tidak lama kemudian dr Anthon datang dan memeriksa kondisi papa. Menurut dokter, 2 hari papa harus bed rest dan tidak boleh ke mana-mana. Kalau kepala terasa pusing, langsung mau diambil tindakan rontgen saja. Duh pa, waktu gempa melanda Yogya dan efeknya terasa sampai Salatiga, untung saja papa ada di tempat tidur saat itu. Coba kalau lagi jalan... pasti sudah jatuh juga tuh. Oya, rencana awal papa khan ke kamar kecil. Terpaksa untuk menyalurkan hasratnya itu harus dilakukan dengan menggunakan pispot. Tapi saking kagetnya, mau buang air kecil pun tidak bisa...