12 February 2007

Devanand sudah bisa apa saja?




Devand sekarang sudah 4 bulan lho... Devand udah bisa ngguling ke kiri dan ke kanan. Dari posisi terlentang ke telungkup dan sebaliknya. Trus udah bisa didudukin, apalagi kalau sambil nonton TV duh... suka sekali dan selalu serius nontonnya. Devand juga sudah bisa buka tutup pintu lemari. Semua benda mau dipegang dan dimasukkan ke mulutnya. Udah banyak ngoceh. Kalau ketemu orang baru suka nyapa "Hai..." atau "a...lo" hehehe...

12 January 2007

Ke rumah kakek

Devand sayang ama kakek. Setiap minggu, pulang dari gereja Devand pasti ke rumah kakek. Sama bapak, ibu, dan nenek Devand ke rumah kakek bawa bunga dan mawar buat ditabur. Kakek pasti senang cucunya sudah besar dan pintar. Kakek sedang apa ya di surga? Devand kangen sekali...

Jaga Devand ya kek...

Devand Baptis

Tanggal 17 Desember 2006 Devanand baptis di GKJ Salatiga. Pendeta yang membaptis Devand Pdt. Em. Meno. Wah, Devand anteng sekali soalnya tidur pules hahaha... Kebetulan ada bu Dethmers yang bisa hadir di acara baptis Devand. Bu Dethmers adalah teman papa. Beliau datang dari Belanda dan mampir ke Salatiga. Habis baptis, kita ngantar bu Dethmers ke museum kereta api Ambarawa karena beliau ada syuting film. Kalau ga salah filmnya tentang kisah orang Jawa pertama yang dibaptis di Indonesia. Bu Dethmers dan adiknya Liweh jadi keluarga pendeta Belanda. Setelah itu siangnya kita ngadain syukuran baptis Devand di pemancingan Mina Kencana. Wah... ikannya sisa banyaaaakk sekali.

11 January 2007

Foto bareng tante Ruth dan om Wawan


Foto bareng eyang Ito dan Yoyo


Gaya tidur Devand




Devand kalau tidur suka miring-miring.
Devand kalau tidur suka ngowoh.
Devand kalau tidur suka senyam senyum sendiri.












Pertama kali dijemur


Pertama kali dijemur di rumah. Devand waktu dijemur suka olahraga. Kaki dan tangannya digerak-gerakin melulu. Mungkin karena itu dia cepet panjang ya? Hihihi baru umur 3 hari popoknya kekecilan. Padahal ibu belinya 6 biji yang kayak gitu. Dari umur 1 bulan, popok-popoknya Devand udah dimuseumkan.

Pertama kali dimandiin


Pertama kali dimandiin ama nenek di rumah Devand nangis njerit-njerit. Ternyata selidik punya selidik airnya kurang panas. Devand suka mandi di air yang tidak hangat, yah satu level di atas hangat. Kalau cuma suam-suam kuku dia pasti menjerit-jerit.
Mungkin bawaan waktu hamil mamanya suka mandi shower air panas yaaa hehehe

Our First Son


Our first son ...
"Emmanuel Devanand Onduko"
called Devand.
Emmanuel means God with us.
Devanand means Joy of God.
Onduko is my father's name, we proud to give our son his name to memorize our lovely father who passed away on August 1st.

Devand was born on October 6th 2006 6 pm, at RS Bersalin Mutiara Bunda Salatiga, weight 4020 gram, height 51 cm.

14 August 2006

RIP


Telah berpulang ke rumah BAPA di sorga, papa kami terkasih, di usianya yang ke 63 tahun - 27 hari, pada hari Selasa 1 Agustus 2006, pukul 02.10 WIB di RSUD Salatiga. Papa menghembuskan nafas terakhir setelah perjuangannya selama 3 tahun melawan sakit stroke dan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Papa tersayang, kami yakin dan percaya papa sekarang tenang bersama Tuhan Yesus. Papa tidak akan merasa sakit dan menderita lagi. Papa sudah menang terhadap penderitaan di dunia, dan papa sudah memenangkan pertarungan, karena papa memegang teguh iman papa. Selamat jalan papa... doakan kami, mama, anak-anakmu yang masih harus berjuang di dunia ini, sampai nanti kita bertemu lagi...
Di pemakaman Sidomulyo, 2 Agustus 2006










Ziarah ke makam papa, pulang dari gereja

31 May 2006

Papa Jatuh!!!

Sore kemarin, papa Yani jatuh. Ceritanya, habis ngobrol-ngobrol di teras dengan mama dan adik, papa mau ke kamar kecil. Sebelumnya adik Yani sms, papa nda mau makan. Padahal khan lagi dalam proses penyembuhan, butuh banyak asupan energi. Nah, saat berjalan melintas di ruang tamu, kakinya lunglai dan mengakibatkan tubuhnya tidak seimbang sehingga jatuh ke lantai. Jatuhnya bukan tengkurap, tapi terpelanting ke belakang. Aduh Gusti... padahal kalau ingat riwayat papa yang kena stroke 3 tahun yang lalu, kami sangat kuatir akibat jatuhnya itu akan mengakibatkan serangan stroke yang kedua. Puji Tuhan, sewaktu jatuh, papa masih sadar dan tidak pingsan. 2 jam mama biarkan papa tidur di lantai karena takut perubahan posisi akan memperburuk keadaan. Sementara itu kepala papa yang terbentur dikompres dengan air es supaya tidak benjol (sempat benjol sih). Adik juga langsung mengambil tensimeter untuk mengukur tekanan darah papa. Ya ampunnn... 180/110. Kemungkinan karena masih shock karena jatuh. Mama juga langsung sigap menelpon dr Anthon yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Semarang. Tindakan kami sudah tepat menurut dokter. Saat jatuh itu, dan tahu papa tidak kehilangan kesadaran, mama dan adik langsung duduk berdoa bersama papa memanjatkan syukur tidak terjadi apa-apa. Yani yang di Bandung, saat itu sedang ada rapat di lantai 7, hanya bisa berharap semoga tidak terjadi hal yang dikuatirkan. Untunglah tidak lama kemudian dr Anthon datang dan memeriksa kondisi papa. Menurut dokter, 2 hari papa harus bed rest dan tidak boleh ke mana-mana. Kalau kepala terasa pusing, langsung mau diambil tindakan rontgen saja. Duh pa, waktu gempa melanda Yogya dan efeknya terasa sampai Salatiga, untung saja papa ada di tempat tidur saat itu. Coba kalau lagi jalan... pasti sudah jatuh juga tuh. Oya, rencana awal papa khan ke kamar kecil. Terpaksa untuk menyalurkan hasratnya itu harus dilakukan dengan menggunakan pispot. Tapi saking kagetnya, mau buang air kecil pun tidak bisa...

29 May 2006

Pendaftaran UM ITB 2006

Pagi ini Yani tiba dari Salatiga. Kali ini Yani membawa serta adik Yani yang mau mengembalikan formulir di ITB. Namanya Wawan (tapi nama kerennya di dunia luar, Paul). Dari Salatiga dia sudah sakit perut, kayaknya maag atau asam lambung. Waduh cilaka nih harus mengurus orang sakit, padahal pagi Yani harus masuk kantor. Ya udah deh, demi adik, Yani putusin ijin dulu pagi ini buat mengantar Wawan ke Sabuga. Setelah sarapan roti dan mimik susu, kami berangkat ke Sabuga. Baru turun dari angkota, udah disambut oleh mbak-mbak yang menjajakan map. "Bu, map nya bu... di dalam harus pake map ini lho" begitu kata dia. Wah, kalau benar demikian, Wawan nda ada persiapan bawa map segala. Ya udah deh, terpaksa 2000 keluar buat bayar satu buah map. Menapaki jalan menurun menuju Sabuga, kita juga dicegat oleh para penjaja perlengkapan alat tulis, buku-buku latihan soal dll. Waduh, terpaksa juga beli lem nih, keluar lagi duit 3000. Katanya di dalam butuh lem buat nempelin foto, dan panitia tidak menyediakan lem. Walah... walah... Wawan masuk ke gedung pendaftaran jam 8. Ditungguin sampai jam 12 nih anak kok ga nongol-nongol... Ya ampyun, baru jam setengah 1 dia keluar. Katanya di dalam masih harus mengisi formulir-formulir lagi. Udah gitu, surat tanda tidak buta warna nya diragukan karena hanya dibuat di puskesmas. Padahal diharuskan atas rekomendasi dokter spesialis mata. Wah, la mung test untuk buta warna cuma pake buku aja kok harus keluar duit lebih? Di puskesmas dengan dokter bagian mata cuma bayar 7000. La kalau ke dokter spesialis mata??? minimal 50 ribu lah hari gini... Waduh... waduh... kadang-kadang yang simple kok dibuat rumit. Ini aja baru pendaftarannya, gimana besok-besok ya???

Gempa di DIY & Jateng

Wah, kirain pagi-pagi ada yang loncat-loncat di spring bed kok tiba-tiba bergoyang sendiri gitu. Eh, ternyata pagi-pagi udah ada gempa. Gempa terjadi pukul 05.55 WIB di Salatiga. Kita pikir ini akibat gunung Merapi meletus. Buru-buru Wahyu lompat dari tempat tidur dan langsung ngacir keluar (waduh... istrinya ditinggalin sendiri...) ternyata dia cuma mau menyapa tukang sayur keliling yang sudah nangkring di depan rumah. "Mas, ana lindu yo mau?" (Mas, ada gempa ya tadi?". Sedangkan saat itu Yani cuma menikmati gempa sambil ngolet sana ngolet sini. Trus bangun dari tempat tidur, melihat kiri kanan apa ya benda yang bisa diselamatkan hehehe... sempat-sempatnya Yani mengambil HP dulu baru keluar kamar dan memeriksa keadaan sekitar (berarti HP lebih berharga daripada buku tabungan, deposito, perhiasan, dompet, dll yang ada di lemari, atau bahkan lebih berharga daripada jiwa yaa??? busyeeettt... ). Ternyata tidak terjadi kerusakan atau retak-retak di rumah. Bahkan benda-benda masih berada di posisinya masing-masing. Bahkan... adik-adik Yani masih tertidur pulas di kamarnya. Ternyata... dari berita Breaking News Metro TV, gempa melanda Yogyakarta dan sekitarnya karena gesekan lempeng benua di dasar samudera Indonesia. Hiy... kayaknya Nyai Roro Kidul lagi marah nih?

28 April 2006

Our Beloved Mother


Mama Yani, duh... ibu satu ini nda ada matinya deh... Selalu ceria, selalu membuat suami dan anak-anaknya tertawa terbahak-bahak karena tingkah laku nya yang konyol dan keisengannya yang minta ampun ga nguatin... Mama Yani puinterrr banget masak. Semua jenis makanan yang dimasak mama Yani selalu enak. Makanya warung makan yang sekarang dikelolanya laris maniss nisss nissss... Mama Yani punya warung makan namanya Tabita... selidik punya selidik ternyata itu kependekan dari Tahan Bila Tuhan Ada... ckckck hebat khan... wah, blum pernah dengar mama Yani bikin tebakan khan? Asli, super duper garing abis... tapi itu yang bikin kita tertawa terbahak-bahak hahaha... Mama Yani juga doyan difoto. Liat aja hasil jepretan kita dengan gayanya yang centil dan lucu hehehe... Oya satu lagi, selain jago masak, ternyata yang satu ini berbanding lurus dengan kemahirannya... yaitu jago makan... Aduh, mama Yani ini kalau makan porsi sebakul. Pernah muntah-muntah karena kekenyangan hahahaha... Tapi di balik canda rianya, mama Yani menyimpan pergumulannya tentang kesehatan papa. Mama Yani selalu setia menemani papa Yani menjalani pengobatan demi pengobatan dan sejak papa Yani pensiun dan sakit, otomatis mama Yani juga memikul beban sebagai kepala rumah tangga... Mama kerja dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore. Itu belum termasuk pekerjaan di rumah, memasak untuk keluarga dan papa Yani terutama yang harus dikontrol makanannya. Mama... we love you so much... Tetaplah menjadi mama Yani yang ceria walaupun banyak bebanmu... Tuhan pasti membantu mama...

Mother, how are you today?Here is a note from your daughter.With me everything is ok.Mother, how are you today?

Our Beloved Dad



Papa Yani, sudah pensiun. Tepat di hari pensiunnya, tanggal 14 Agustus 2003, papa Yani kena stroke. Akibat stroke itu, papa Yani sekarang lemah secara fisik, bahkan sempat lumpuh tubuh bagian kanannya. Sebulan papa Yani mendapat perawatan insentif di RS Elizabeth Semarang. Keluar dari rumah sakit, sebulan kemudian papa Yani harus masuk lagi untuk menjalani operasi prostat stadium 4. Awal tahun 2005 papa Yani didiagnosa kena lymphoma sehingga harus masuk rumah sakit lagi untuk menjalani kemoterapi selama 6 kali berturut-turut, sebulan satu kali. Puji Tuhan, papa Yani tetap kuat dan tetap semangat dalam menjalani semuanya itu walaupun kondisi fisiknya lemah dan tidak selincah dahulu saat dalam keadaan sehat. Kata papa Yani, berserah kepada Tuhan, mengucap syukur senantiasa kepada NYA, adalah yang menjadi kekuatannya. Desember 2005, papa Yani boleh menyaksikan anak pertamanya menikah, suatu anugerah yang luar biasa yang boleh dialami papa Yani mengingat semua penyakit yang menderanya. Jika Tuhan berkenan, papa Yani boleh menikmati menimang cucu pertamanya tahun ini. Dad... we love you so much...